Inilah 28 Dawuh/ Nasihat Hidup KH. Maimun Zubair

KH. Maimun Zubair bersama Al Habib 'Abdullaah Al Muhdlor, Hadlromaut Tarim di kediaman Syaikhina. (Sumber: facebook KH. Maimun Zubair)
Kyai Haji Maimun Zubair (lahir di Rembang, 28 Oktober 1928; umur 87 tahun) adalah seorang ulama dan politikus, saat ini ia merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang dan menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro Partai Persatuan Pembangunan. Ia pernah menjadi anggota DPRD kabupaten Rembang selama 7 tahun. Setelah berakhirnya masa tugas, ia mulai berkonsentrasi mengurus pondoknya yang baru berdiri selama sekitar 7 atau 8 tahun. Tapi rupanya tenaga dan pikiran ia masih dibutuhkan oleh negara sehingga ia diangkat menjadi anggota MPR RI utusan Jateng selama tiga periode (Sumber: wikipedia). Berikut total 28 Nasihat KH. Maimun Zubair:
  1. "Sampeyan Sekolah model apapun, seng penting ojo ninggalno ngaji." (Anda Sekolah yang bagaimanapun, terpenting jangan tinggalkan ngaji).
  2. "Dzurriyatur Rasul kebanyakan tak terlihat, maka jangan menjelek-jelekkan orang Islam."
  3. "Kulo gadah (punya) guru namine (namanya) KH. Abdullah bin Nuh. Beliau kalau mau mengajar harus muthalaah dahulu, padahal beliau sangat alim."
  4. "Wong koq neng omah terus kaprahe ora sehat, mulane sekali-kali refreshing." (Umumnya orang yang kebanyakan di rumah itu tidak sehat, maka sesekali perlu refreshing).
  5. "Kelompok yang menguasai dataran tinggi Golan maka akan menguasai dunia. Seperti yang terjadi saat ini, Yahudi sekarang yang menguasai dataran itu."
  6. "Wong iku kudu duwe jiwa Nasionalis." (Orang itu harus punya jiwa Nasionalis).
  7. "Jangan mengatakan negara Uni Soviet itu komunis. Pemerintahannya saja yang komunis. Karena dulu Uni Soviet itu terdiri dari banyak daerah seperti Uzbekistan, Turkmenistan, dll. yang mayoritas Muslim. Dan banyak ulama besar lahir di sana seperti Imam Bukhari, Imam Samarkandi, dll. Cuma Rusia yang non-Muslim."
  8. "Setelah shalat Shubuh jangan tidur lagi, karena bisa menyebabkan faqir."
  9. "Kalau kamu ditanya alamat oleh seseorang jawablah dengan alamat desamu, jangan kotamu dulu. Karena ulama-ulama itu bangga dengan desanya."
  10. "Kiai iku kudu iso moco kitab kosongan." (Kiai itu harus bisa membaca kitab kuning gundul).
  11. "Ora kudu pinter bercakap-cakap bahasa Arab. Seng kudu iku biso moco tulisan Arab lan paham." (Tidak harus pandai bercakap bahasa Arab. Yang harus adalah bisa membaca tulisan Arab dan paham).
  12. "Syaikh Ihsan Jampes iku ngalim, iso ngarang kitab Sirajut Thalibin. Ngalime koyo ngono tapi ngomong-ngomong Arab gak patek lancar." (Syaikh Ihsan Dahlan Jampes Kediri itu alim, mampu mengarang kitab Siraj ath-Thalibin. Beliau yang begitu alimnya saja dalam percakapan bahasa Arab kurang begitu lancar).
  13. "Wong wareg iku angel ngalime." (Orang yang kenyang itu sulit menjadi alim).
  14. "Gusti Allah ojo mbok tuntun." (Allah Swt. jangan didikte).
  15. "Wong seng apik iku wong seng ora berubah waktu seneng utowo susah." (Orang yang baik itu orang yang tidak berubah sewaktu suka ataupun susah).
  16. "Al-Quran keterangane kadang dibolan-baleni. Mulane wong koq bosen karo al-Quran berarti lemah imane." (Al-Quran keterangannya terkadang diulang-ulang. Maka, jika ada orang yang bosan terhadap al-Quran pertanda lemah imannya).
  17. خير الامور وسط # حب التناهي غلط . "Yang terbaik dalam segala sesuatu adalah yang moderat (pertengahan) # Sedangkan suka pada penghinaan adalah suatu kesalahan."
  18. "Nek arep ngomong ojo waktu jengkel." (Kalau mau berbicara jangan di saat marah)
  19. "Orang yang kamu ikuti itu kudu seng pinter agomo (harus yang pandai agama/seorang ulama). 
  20. "Kanjeng Nabi walaupun sebagian paman-pamane kafir lan mungsuhi (memusuhi), tetapi Beliau (Saw.) tetap bersilaturahim pada mereka."
  21. "Kudu biso moco (harus bisa baca kitab) Fathul Mu'in lan Fathul Qarib."
  22. "Biso parek karo Allah iku dengan bil ilmi wattaqwa." (Bisa dekat dengan Allah itu dengan ilmu dan ketakwaan).
  23. "Ora do iso moco kitab koq arep gawe Khilafah." (Tidak bisa baca kitab kuning koq mau membuat/mendirikan Khilafah!).
  24.  "Ora usah sombong, seng kurikulum ben kurikulum, pancen wes wayahe. Seng penting Sampeyan ngaji." (Tidak usah sombong, yang memakai sistem kurikulum biarkan saja dipakai, memang sudah waktunya. Yang penting Anda ngaji).
  25. "Wong-wong sholeh walaupun faqir mereka tetep nyaman seperti Syaikh Abil Hasan asy-Syadzili."
  26. "Apik-apike ke-futuh iku melek dalu karo moco kitab kerono Allah Ta'ala." (Terbukanya hati (futuh) itu paling baiknya terjaga di malam hari sambil baca kitab dengan ikhlas).
  27. "Omah nek dinggoni sholat sunnah jembar rizqine." (Rumah jika dipakai untuk shalat sunnah maka rizkinya luas.
  28. "Duwe anak iku apike jumlahe sedengan, yo ora akeh yo ora sitik. Mergo Kanjeng Nabi pernah ditakoi sahabat tentang urip susah. Nabi jawabe: كثرت العيال وقلة المال. (Punya anak sebaiknya berjumlah yang cukup/sedang, tidak banyak juga tidak sedikit. Karena Nabi pernah ditanya oleh sahabat tentang hidup susah, maka jawab Nabi Saw.: "Banyak anak sedikit rizki/ harta."). (sumber: facebook Aswaja Madura)
Dari nasihat pertama kita belajar betapa pentingnya mengaji. Banyak orang yang mempermasalahkan Pesantren Yayasan, Pesantren tapi juga Sekolah, menurut beliau itu bukanlah masalah, karena memang sudah zamannya. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak mengaji. Dari nasihat no. 3 kita belajar betapa penting nya muthala'ah (Belajar/ menghafal dari buku catatan/ kitab sendiri). Ya, bagaimana pun dengan muthala'ah kita dapat mengingat kembali ilmu yang mungkin sudah kita lupakan dan bahkan mungkin menambah wawasan kita, sehingga yang tadinya tidak akan kita bahas ketika nanti mengajar, jadinya kita bahas.

Sedangkan dari nasihat kedelapan kita di beritahu agar tidaklah tidur setelah shubuh, karena akan mewarisi sifat faqir, baik itu faqir harta maupun ilmu, naudzubillah. Ya, dipikir dari sudut pandang manapun memang benar bukan, setelah shubuh  adalah saat dimana Orang tua mulai bekerja, anak-anak sekolah, dan para santri memulai kegiatan mengajinya. nah, gimana jadinya kalau kita hanya tidur?.

Dari nasihat selanjutnya yang kesepuluh kita dapat memahami bahwa seorang "kiyai" haruslah bisa membaca kitab kuning/ kitab gundul. Ya, bagaimana pun juga di akhir zaman ini memamng begitu maraknya kiyai gadungan, naudzubillah. Dan juga tentunya KH. Maimun Zubair memberi nasihat demikian bukan tanpa alasan, karena bagaimana tidak, kitab kuning adalah sumber ilmu yang di wariskan dari ulama terdahulu.

Nasihat ke 13 mengajarkan kita agar tidak terlalu banyak makan, ya begitu juga yang di ajarkan oleh Rasulullah S.A.W. banyak makan juga akan menimbulkan rasa ngantuk yang akan/ dapat mengganggu dalam proses Tolabul 'Ilmi (mencari ilmu). Sedangkan dari nasihat ke 15 yang saya pahami adalah walaupun kita sedang dalam kedaan senang ataupun sedih kita tidak boleh berubah, apakah dari segi emosi ataupun biara. Yah, intinya kita harus tetap "cool". karena perlu anda ketahui, seorang alim (orang berilmu) itu lebih banyak diamnya daripada bicaranya, artinya tidak banyak omong.

Begitupun pada nasihat ke 18, intinya sama, kita haruslah bisa menjaga emosi terutam juga lidah. Jika kata pepatah "Lidahmu, Harimau mu" itu sangatlah beralasan lidah dapat menyakiti seseorang dengan mudahnya. Maka dari itu, jagalah ucapan, berpikirlah sebelum berbicara, dan jangan berbicara disaat marah, disaat emosi menguasai dirimu. Nasihat berikutnya mungkin tidak perlu saya jelaskan, karena bagaimana jadinya jika orang yang kita ikuti tidak paham agama? ibarat jika orang itu masuk jurang maka kita akan mengikutinya. maka dari itu ikutilah orang yang paham akan jalan, orang yang paham akan agama.

Nasihat selanjutnya yang ke 20, mengajarkan kita agar tetap menjaga tali persaudaraan. jadi teringat film "Fast & Furious 6" yang saat itu Letty kehilangan ingatan dan berbalik melawan Dom, sehingga dia berkata "Jangan tinggalkan keluarga, meskipun keluarga meninggalkan mu" ko jadi bahas film ya? hihi.. yah intinya seperti itu, karena keluarga adalah keluarga tempat dimana kita akan pulang, maka dari itu jangan memalingkan muka dari keluarga.

Nasihat ke 21 emang berat, tetapi nasihat itu persis seperti nasihat almarhum ayah saya sendiri, beliau bahkan mengatakan "minimal" hafal kedua kitab itu. Tambah berat aja. Nasihat selanjutnya juga tidak kalah berat, bagaimana tidak karena "Taqwa" bukanlah sembarang kata, dan untuk sampai ke level tersebut bukanlah hal yang gampang tentunya. Nasihat ke 24 tidak jauh dengan nasihat petama, mengingatkan kita akan penting nya mengaji.

Pada No. 26, mengingatkan kita agar terbangun di malam/ dini hari dan tentunya beribadah bukan melakukan hal yang sia-sia. No. 27 tidak perlu saya jelaskan lagi. Pada Nasihat terakhir ,intinya kembali ke nasihat yang ke 17 dimana yang "sedang" biasanya jadi yang terbaik, dan itu pun berlaku pada jumlah anak.

Sebelmnya saya minta maaf jika ada salah tutur kata dan jika ada salah penjelasan saya mohon bantuannya, cukup sampai disini, terimakasih.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Inilah 28 Dawuh/ Nasihat Hidup KH. Maimun Zubair"

Posting Komentar

Terimakasih untuk tidak berkomentar SARA dan tidak mengucapkan kata-kata kasar.